29/06/2016

Jemari seringan lidah



Konon katanya, lidah mudah berucap karena tak bertulang. Tidak sedikit info benar yang bercampur dengan hal-hal tambahan yang terucap menjadi bahasa lisan. Kekonsistenan yang tidak mudah ketika berbicara, bermajas, berkonotasi, dan sejumlah ‘kode’ bisa terucap melalui lisan. Sayangnya, semakin ke sini tidak hanya lidah yang perlu dijaga agar tidak berlebihan. Jemari pun perlu dijaga dari hal-hal yang berlebihan.

Semakin kesini, kehidupan semakin canggih. Kalau dulu bahasa lisan dan tulisan bisa dibedakan dengan mudah, sekarang kita juga bisa menggunakan bahasa lisan dalam tulisan. Tentu saja kejadian misunderstand tetap ada karena bahasa tulisan tak menghasilkan intonasi dan penekanan pada kata tertentu. Iya, sejak  kehadiran sosmed yang mewabah, komunikasi dua arah atau lebih, yang  melibatkan bahasa tulisan ‘rasa’ lisan bukan merupakan hal yang aneh. Humor dan candaan pun dengan mudahnya terlontar dengan bahasa tulisan ‘rasa’ lisan, pun dengan resiko bahwa candaan menjadi garing atau tidak pantas ditulis karena tak senyata candaan dalam bahasa lisan.


Dulu, curhat (entah bahagia atau sedih) bisa dilakukan dengan bahasa tulisan antar dua orang sahabat atau kerabat dekat melalui posel atau bahkan surat. Rahasia nya pun aman dan tertutup rapat selama orang  yang diajak berbagi bersifat amanah. Namun kini, curhat bisa langsung terbaca oleh ratusan kawan dan bahkan orang yang tak dikenal dalam kehidupan nyata, melalui status media sosial. Rasa ‘tak terlihat’ orang banyak ketika menulis memang terbatas oleh layar ponsel atau desktop depan mata, namun sering kali kita lupa kalau banyak orang bersikap berbeda atas apa-apa yang beredar di sosmed berlabel nama kita. 

Kalau dalam kehidupan sehari-hari lisan perlu dijaga, kita juga perlu menjaga jemari dalam menggunakan sosmed. Kembali lagi perlu kita ingat apa sebaiknya tujuan dalam menggunakan sosmed sehari-hari? Apakah sekedar bercakap dengan kawan-kawan? Apakah berbagi hal-hal informatif yang teruji kebenarannya? Apakah ingin diperhatikan orang atau kalangan tertentu? Atau … sebagai tempat untuk mengasah kemampuan memancing ikan di air keruh, berburu kambing hitam, dan bahkan mengadu domba?

Mumpung bulan puasa belum berakhir, kita perlu merenung kembali apa-apa yang sudah kita bagi di sosmed sudah bermanfaat atau belum. Mungkin kita perlu belajar lagi bagaimana mengatur tampilan/setting agar terbaca orang-orang tertentu saat menulis status tertentu. Bukankah kita perlu memastikan bahwa tulisan kita tepat sasaran dan tidak sia-sia? Tak perlu bahasa ‘kode’ dalam media sosial ketika usia kita tak muda lagi. Semakin bertambah usia, kita sebaiknya paham bahwa makna ambigu, menyindir, dan sederet kata ungkapan tak selalu dimaknai sama oleh tiap orang, bisa jadi tidak membawa manfaat dan hasil yang diinginkan. Saya sendiri pun mengakui bahwa menulis santun dan efektif tidak lah semudah membalikkan telapak tangan. Mari kita mencoba mengendalikan lidah dan jemari mulai dari sekarang. :)

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kesan dan pesan nya. Jangan kapok dan sungkan untuk berkunjung kembali :)