30/05/2024

Tentang kebenaran

Satu kebenaran bisa muncul sendiri, bisa juga karena dicari. Seperti hari ini, saya menemukan satu tabiat salah seorang kerabat yang baru saya ketahui. Satu keadaan yang menyebabkan saya kaget dan tidak menduga ia punya tabiat demikian. Dengan kata lain, 'kebenaran' ini muncul sendiri tanpa saya cari.

Lalu ada juga jenis kebenaran yang lain, baru ketemu nilai benar tidaknya saat betul-betul dicari. Misal ada teman posting beberapa produk merk tertentu yang masuk list boikot. Saya baru mengetahui ada satu yang termasuk dalam list dan menanggapi apa yang dia "share". Dia hanya berkomentar balik kurang lebih, "Sudah sejak dulu Mbak, saya sudah stop beli barang tsb." Sayangnya, ketika saya bertanya lebih jauh semacam mengapa merk tsb diboikot, dia seakan "slow respon", seakan menghindari apa yang sedang dibahas. Sebuah pertanda, saya harus mencari sendiri kebenaran klaim postingan tersebut, secepatnya.

28/05/2024

Live

Kira-kira dua tahun lalu, awal saya mendatangi rumah murid privat saya di kecamatan sebelah. Saya takjub pada ibu dari anak SMA yang saya ajar ini. Beliau menggendong anak terkecilnya sambil menonton acara live "orang-orang thawaf" di televisi. Saya tidak bertanya apakah beliau melihat acara tersebut streaming youtube atau via TV kabel, hanya saja saya takjub saat ada seorang ibu-ibu yang tidak menonton sinetron. Usianya pun relatif muda, bukan di usia terlalu senja. 

Saat itu saya berpikir, "kok bisa??" Hebat sekali bisa terlepas dari pesona sinetron, atau minimal film dan kdrama. Saat itu saya berpikir, saya sudah bisa meminimalisir menonton TV tapi ... rutin menonton orang thawaf apakah bisa? Saat itu saya tidak paham mengapa bisa se-addict itu menonton live orang-orang yang ber-thawaf.



Beberapa tahun kemudian --lebih tepatnya sebelum saya rilis postingan ini-- saya baru paham 'mengapa menonton hal demikian' bisa menimbulkan rasa addiction. Saya mendapat jawaban tanpa perlu harus bertanya pada beliau. Lebih-lebih saat saya sudah tidak mengajar puteranya lagi. Nah, kira-kira rasa apa yang muncul setelah menonton live streaming di atas? 😁

27/05/2024

Tujuan

Tadi di sekolah, ada satu kejadian di antara sekian kehebohan pendaftaran murid dari SMP ke SMA. Tentang seorang ibu yang mempertanyakan apakah bisa mengganti pilihan sekolah tujuan karena anaknya tidak berkenan masuk ke sekolah yang dipilihkan ibunya. Tentu saja beliau diarahkan pada pihak yang lebih berkompeten untuk menjawab, mengingat hak mutlak akses pendaftaran online ke jenjang SMA/SMK Negeri di Jawa Timur bukan di sekolah kami. Pendaftaran jenjang SMA/SMK Negeri terpusat oleh Pemprov (misal Pemprov Jawa Timur), bukan kabupaten.

Saya tidak tahu bagaimana ending-nya, hanya saja saya teringat kasus serupa merupakan kasus 'tak lekang waktu'. Sejak dulu saya sudah pernah mendengarnya. Waktu itu, saya persiapan memasuki jenjang perguruan tinggi. Ada guru-guru yang bercerita tentang perseteruan antara orang tua dan anak yang memiliki minat berbeda tentang jurusan-jurusan di perguruan tinggi. Belum pernah bertemu perseteruan antara anak dan orangtua tentang pemilihan jenjang SMA/SMK. 

Kembali ke cerita murid saya, sang ibu memilihkan SMK Negeri baru 'boarding school' di suatu kota di Jawa Timur, jauh dari domisilinya sekarang. Tadi beliau bercerita memilihkan sekolah tersebut agar anaknya tidak perlu mikir atau bersaing ketat untuk mendaftar sekolah negeri yang lebih dekat. Dengan pertimbangan sekolah pilihan ibu adalah jenis sekolah baru dan memiliki peluang mudah masuk, (saya tidak tahu siapa yang mengeklik pilihan di web, kemungkinan si anak sendiri) dan si anak mau memilih sekolah yang jauh itu. Ternyata, setelah menyelesaikan pendaftaran, si anak tidak bisa memilih sekolah lain baik itu SMA atau SMK Negeri di kota terdekat. Di sinilah masalah muncul. Ternyata, dalam satu kali pendaftaran, hanya satu sekolah negeri di provinsi Jawa Timur. Akhirnya, si anak pun kecewa berat, putus asa, enggan sekolah karena merasa salah duga bisa memilih sekolah lebih dari satu. Sad 😢 

26/05/2024

Bye-bye facebook

Halo, apakah ada yang masih akses facebook

Saya hanya menginformasikan kalau akun saya sudah deaktivasi, kira-kira seminggu yang lalu. Memang saya sudah tidak pernah menggunakan akun itu sejak promo buku antologi. Setelah itu saya biarkan saja akun tsb walau tidak saya gunakan untuk bersosial media. Suatu ketika, minggu lau...  saya mendapatkan kiriman kode untuk login facebook lewat sms. Tidak hanya sekali, tapi tiga kali berturut-turut. Hingga akhirnya, saya putuskan untuk menonaktifkan akun tsb karena bisa saja dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Perlu menunggu waktu satu bulan untuk tidak login ke sana sampai akun saya benar-benar non aktif secara permanen. Jadi, jangan mencari saya di sana ya. 

22/05/2024

Perlukah normalisasi membaca buku di ruang publik?

Kira-kira seminggu lalu, ada teman yang membuat reels tentang tidak perlunya menormalisasi -- membuat terlihat normal atau biasa-biasa saja, tanpa perlu merasa takut karena dihakimi-- membaca buku di tempat publik/umum. Sebenarnya reels ini melawan beredarnya beberapa reels yang menunjukkan kegiatan membaca di tempat umum oleh satu komunitas. Kegiatan itu dilakukan di kereta dan melibatkan banyak orang (satu komunitas baca di satu kota tertentu). Tujuannya jelas menyebarkan ajakan agar menganggap membaca di tempat umum adalah hal yang biasa, tidak perlu dinyinyiri, atau dihujat karena dipandang bawa-bawa buku. 

Bagi teman saya, tanpa gerakan "menormalisasi gerakan membaca buku di publik" seharusnya kebiasaan membaca sudah cukup membuat pembaca agar terus membaca di mana saja termasuk di tempat publik. Dia berpandangan bahwa buku adalah hal yang biasa, sepertihalnya ponsel yang biasa dibawa dan dianggap wajar ketika diakses dimana saja. Beberapa pendapat yang saya amini kebenarannya. Meskipun saya belum bisa sering baca di tempat umum. Saya lebih sering memanfaatkan tempat umum untuk "melihat-lihat" atau "mendengar" hal-hal yang bisa dijadikan bahan blog atau sekadar memperkaya pemahaman atas apa yang terjadi di sekitar saya. Intinya, jika ingin baca di tempat umum ya tinggal baca saja. Aktifkan mode cuek tingkat tinggi. Simpel, tapi tidak semua orang mudah melakukannya.

19/05/2024

Pic2



September, last year

 May Allah grants my wish to come back in this city with my family :) 

18/05/2024

Tempat pengingat

Akhir-akhir ini, saya seperti diingatkan kembali agar tidak terlalu sedih dalam menghadapi hidup. Ada rentetan kejadian yang mengingatkan saya agar perlu lebih menghargai orang-orang di sekitar saya. Lebih-lebih pada mereka yang berinteraksi dengan saya secara langsung sehari-hari. Kebersamaan yang tidak bisa menjadi jaminan kami akan saling bersama satu sama lain selamanya, misal saya dan keluarga saya.

Beberapa hari ini terdengar kabar duka dari beberapa rekan orang tua saya, berpulangnya sepupu dari adik ipar yang berusia terhitung muda, kabar kecelakaan dari suami-suami beberapa rekan kerja saya, dan kabar opname salah satu adik ayah saya. Kabar-kabar ini memaksa saya untuk kembali merasa 'awas' bahwa saya pun perlu menjaga diri baik-baik agar bisa berperan untuk saling menjaga siapapun di sekitar saya. 

14/05/2024

Tidak menyangka

Kemarin, saya posting tentang oseng daun pepaya. Ternyata, hari ini saya tidak menyangka akan menerima konsumsi panitia yang salah satu sayurnya adalah oseng daun pepaya. 😀

Pertanda apa? 

Entahlah, pokoknya alhamdulillah...😁

Menu makan siang saya hari ini. Selamat makan...

13/05/2024

Asumsi dan ekspektasi

Kemarin pagi saat saya ke pasar, saya melihat ada oseng daun pepaya (Misal Oseng A) di salah satu dagangan jajan pasar. Saya berasumsi rasa dari oseng tersebut adalah enak (tidak pahit). Berbekal pengalaman merasakan oseng daun pepaya yang dijual  seseorang yang tinggal di ujung desa (Misal Oseng B), saya merasa yakin oseng yang akan saya beli rasanya juga seenak itu. Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli satu porsi oseng daun pepaya dalam wadah plastik mika. 

Hasilnya? Tidak sesuai ekspektasi. Oseng daun pepaya yang saya beli di pasar rasanya sebelas dua belas seperti oseng daun pepaya yang saya buat sendiri; masih terasa ada pahit-pahitnya. Yang artinya, saya salah berasumsi alias terlalu menaruh harapan pada rasa dari masakan yang dijual. Saya seolah lupa untuk menyisipkan rasa sangsi bahwa dua hal yang berbeda tidak bisa disimpulkan sama; pembuat Oseng A dan B berbeda, rasanya pun berbeda.

10/05/2024

writer's block

Sejak tulisan terakhir, saya mengalami writer's block menulis di blog ini. Semacam enggan menulis. Mau nulis juga perlu nulis apa. Mungkin efek kesedihan. Halah...

Alhamdulillah jari saya membaik. Ya walau masih ada rembesan darah dikit, yang jelas bentuknya sudah tidak terlalu mengerikan. Selama ini saya bersyukur ngga terlalu banyak gerak. Saat kerja sebagai panitia ASAJ (Asesmen Akhir Jenjang) ngga seriweh ABM. Entah karena sudah terbiasa, entah juga saya ngga terlalu ambil pusing karena memperhatikan si jari. Haha.

Kali ini saya sedang mencari ide, cemas karena tidak menemukan topik tulisan yang keren (walau bagi pembaca apa yang saya tulis juga ngga keren² amat selama ini, paling tidak tulisan saya cukup keren bagi saya. Haha). Lalu saya akhirnya pun terdampar di blog via hp. Sambil merenungi saya harus nulis apa untuk tugas menulis pentigraf. Yup, guru di sekolah saya perlu menulis satu pentigraf. Nahasnya, guru yang tergabung Tim GLS perlu menulis 2-3 pentigraf. Yiha, yang bener aja. Deadlinenya besok pula.🫠

Menulis bagi saya gampang-gampang sulit. Gampang kalau asal nulis, sulit kalau ditujukan untuk "branding". Lebih-lebih bagi deadliner macam saya. Ahay

Baiklah, saya sudahi curcolan saya kali ini. Bisa jadi setelah saya tekan tombol "publish" tulisan ini, kemungkinan akan ada ide yang meluncur masuk ke otak saya. Barangkali akan ada jiwa-jiwa pembaca yang merindukan tulisan ga jelas saya di luar sana dan mendoakan saya dalam kondisi baik-baik saja. Haha GeEr ya 😅. 

05/05/2024

The Power of taking a nap

Apakah bahasa pada judul terasa benar? Entahlah rasanya seperti judul buku-buku genre pengembangan diri atau self improvement. Haha, abaikan saja kalau memang terasa aneh. Yang jelas saya tidak akan membuat sebuah tulisan yang bakal dikembangkan menjadi satu buku nonfiksi. Saya hanya menuliskan manfaat tidur siang yang tidak terlalu lama. Itupun sudah jadi rahasia umum.😆

Mungkin bagi banyak orang, tidur siang memang bermanfaat. Hanya saja saya merasakan manfaatnya sejak 1-2 minggu lalu selama merampungkan hutang puasa.  Walau puasa, jam kerja di sekolah sudah kembali normal. Yang artinya pulang kerja tidak lagi pukul 13.30 WIB tetapi pukul 14.30 WIB. Semakin siang semakin menurun tenaganya. Akhirnya saya memutuskan tidur sejenak setelah sholat dhuhur saat tidak ada jam mengajar kira-kira 30-60 menit di mushollah guru. Hasilnya, saat pulang terasa lebih segar dan tidak mengantuk saat naik motor.

Kemudian, manfaat tidur 30 menitan ini juga sangat membantu kesadaran diri saat mengemudikan mobil. Beberapa kali pakai cara ini bisa mengurangi uring-uringan di jalan bila anggota keluarga lain sangat termotivasi untuk request bagaimana sebaiknya kendaraan melaju. Hasilnya bisa lebih tenang saat semua penumpang berkomentar padahal pegang setir saja tidak. Haha. Yang jelas, saat melintasi jalanan yang macet, kalau bisa tidur sejenak sebelumnya, itu sangat membantu agar tidak mengantuk selama di jalan. Apalagi akhir-akhir ini saya merasa tidak tega kalau ayah saya yang mengemudi, sedangkan adik dan ipar berada di tempat lain. Jadi, saya akan mengusahakan rebahan atau tidur siang sejenak sebelum mengemudi dimanapun (asal tempatnya aman) agar saat berkendara bisa lebih mengendalikan rasa kantuk. 😬

03/05/2024

Sakit yang disimpan sendiri

Hampir dua mingguan ini rasanya saya agak sedih, gloomy. Mungkin efek sakit di salah satu jari saya. Kalau mau ijin tidak masuk kerja pun rasanya 'ngga mbois' karena alasannya "cantengen". Lumayan agak susah untuk motoran, tapi Alhamdulillah bisa berkendara sampai saat ini.

Ngomong-ngomong adakah yang tahu apa itu "cantengen"? Kondisi daging sekitar kuku yang membengkak dan berisi nanah. Sebabnya bisa karena memotong kuku terlalu pendek sampai ke bagian daging, bisa juga karena mencabut kulit sekitar kuku (siwilen). Akhirnya, bila terjadi infeksi...jarinya bisa membengkak dan 'kemeng'. Semakin besar bengkaknya, semakin banyak bakal nanah yang akan keluar dan semakin lama pula pemulihannya. Ahay 

Berhubung saya bisa mengetik tulisan ini walau via hp, anggap saja jari saya tsb sudah hampir sembuh. Sebagian besar area sudah hampir kering tetapi masih meninggalkan pemandangan memprihatinkan. Bahkan saat mengetik tulisan sebelum ini yang berjudul "lagu" rasanya jari saya masih kerasa sakitnya. Pernah juga satu malam saya tidak nyenyak tidur dan berakhir sangat mengantuk keesokan harinya. 

Sepertinya... rasa kemeng mampu mendatangkan rasa melow. Agak menyedihkan ya, bikin mood juga gampang sedih kalau memikirkan sesuatu yang belum ketemu solusinya. Padahal saya juga sedang berpuasa "nyaur utang" ramadan. Rasanya tetap kerasa sedih. Agak alay ya 🫠

Perkara "cantengen" sebenarnya tidak bisa dianggap enteng. Walau pernah mengalami hal ini di jari kaki, saat berada di jari tangan rasanya lebih mengerikan. Kulit yang tercabut mengelupas saat di bebet plester atau kasa lumayan menyisakan pemandangan yang bikin begidik. Mirip seperti melihat bolongnya daging pada badan alm kucing saya sehabis berkelahi dengan kucing lain. Waktu itu saya harus mengobati si kucing dengan cara menuangi daging badan yang bolong dengan minyak tawon. Ngeri-ngeri kasihan saat melihat daging badan kucing yang terbuka. Bedanya, saat kulit saya terkelupas dan berbentuk daging yang tak beraturan, di situlah saya ngerasa kasihan sama jari saya. Pemandangan yang bikin ngilu.... tapi harus saya lihat agar mudah membersihkan nanah dan merawat lukanya dengan revanol dan minyak tawon.

Pembelajaran dari "cantengen" ini adalah gunakan pemotong kuku saat siwilen. Ada juga yang menasihati agar mengoleskan alkohol setelah memotong siwilen agar steril. Belum ada yang menasihati dengan menggunakan revanol, tapi sepertinya bisa dicoba.

Semoga bisa segera kering dan kembali ke aktivitas sehari-hari tanpa merasa ngilu, lebih-lebih saat tidak mampu menceritakan betapa ngilunya si jari saat diajak beraktivitas. Sakit yang hanya bisa disimpan sendirian. Sekian cerita penting ngga penting hari ini. Selamat memasuki hari Jumat.