30/03/2016

Sinetron tak pernah mati

Hampir semua warga Negara Indonesia mengenal sinetron dan film televisi. Dua istilah sejenis yang dibedakan oleh durasi waktu penyiaran oleh stasiun televisi tertentu. Tidak hanya sore dan malam hari, sekarang tayangan ‘sejenis’ sinetron pun merajalela di stasiun manapun. Entah itu drama dari negeri antah berantah atau dari nagara kita bermukim. Kenapa saya menyebut ‘sejenis’? karena saya tidak terlalu paham kriteria tertentu sebuah tayangan dapat dilabeli kata sinetron. Drama apapun yang tayang lebih dari sekali, dan diputar kelanjutan nya pada hari yang sama atau keesokan harinya, saya akan menyebutnya ‘sejenis’ sinetron.

Pernah kah terlintas dalam benak teman-teman, mengapa sinetron dan sejenisnya tak pernah mati? Mengapa selalu ada judul baru menggantikan sinetron yang diperkirakan akan selesai? Mengapa kisah nya hampir sama? Mengapa tokoh utama nya (maaf) terkesan bodoh dan tidak tegas? Anehnya, hampir setiap sinetron memiliki karakter demikian? Mengapa cerita demikian masih eksis?

Sering diceritkan dalam film televisi dan sinetron, bahwa tokoh utama itu biasanya rendah hati, tidak sombong, lemah lembut, tidak membentak, mengalah, dan sejuta perilaku yang “dianggap” perbuatan terbaik dari seseorang. Kadang saya berujar, “aduh kok gitu se? kan bisa bales, masa dipukul diam aja?” atau berujar, “Lho.. katanya baru keguguran. Kok udah lompat-lompat aja naik Jeep. Emang kuret itu ga sakit?”, dan sejuta keganjalan lainnya.

Seorang ibu penikmat sinetron berujar, “Justru ceritanya yang ‘biasa-biasa’ aja itu enak. Ga capek mikir”. Oh… ternyata itu salah satu nya. sekelumit jawaban yang membuat saya merefleksi apa saja yang saya lakukan ketika melihat sinetron. Saya juga menyadari bahwa menonton sinetron bisa disambi tiduran sambil kipas-kipas, atau disambi ngupas bawang. Apalagi bahasa pengantarnya Bahasa Indonesia. Pernah saya melihat Running man yang pakai subtitle, saya tidak bisa nyambi ngerjain yang lain karena baca subtitle-nya. Saya juga belum pernah lihat film horror sambil marut kelapa, bisa-bisa tangan saya keparut gara-gara kaget pas hantu nya nongol di layar TV. Saya juga tidak bisa nyambi setrika baju ketika menonton drama Taiwan The Clue Collector yang juga pake subtitle dan jalan ceritanya berasa misteri ambigu. Wajar bila ibu-ibu menjadi sebagian penggemar sinetron karena mereka telah lelah seharian memikirkan hiruk pikuk kehidupan seharian dan merasa terhibur dengan tayangan yang tak terlalu berat. Jadi satu kesimpulan yang diperoleh, sinetron berbahasa Indonesia (atau dengan dubbing) dalah tayangan yang cukup mudah untuk dicerna :D

Suatu ketika saya bermain ke rumah tante saya. Melihat putri nya yang bernjak remaja begitu khusyuk menatap sinetron kekinian dan juga booming.  Hal itu membuat saya memahami sesuatu. Ternyata sinetron dengan tema remaja berhasil menarik perhatian remaja wanita di sekitar saya. Kenapa? Lihat saja para pemain nya, mereka cantik dan ganteng. Tak heran bila remaja meniru cara berpakaian dan bersikap sesuai adegan yang mereka lakoni. Terlepas entah itu ceritanya masuk akal atau tidak, wajah pemain menjadi salah satu daya tarik penonton termasuk remaja wanita. Remaja cowok di sekitar saya? Mereka konsen sama hape nya masing-masing. Mungkin kalau teman sebaya saya sudah berandai-andai  membayangkan menikah dengan aktris yang anggun nan semampai, tidak demikan dengan kerabat saya yang cowok. Salah satu dari mereka juga berceletuk, “Lihat apa sih? Masih ganteng an juga aku!” Bleh. Nampaknya pesona aktor dan aktris yang muda dan fresh sangat besar dampaknya pada remaja putri. Bahkan tidak sedikit dari mereka menjadi fans yang delusional (lol). Jadi penampilan pemain cukup menarik seseorang untuk memngikuti sinetron tertentu.

Lalu apa lagi yang membuat sinetron dan tayangan sejenis tak pernah mati? Sementara, saya masih memiliiki dua alasan yang diperoleh. Cerita yang ringan dan penampilan pemain. Mungkin suatu ketika saya akan mengetikkan kembali alasan lain jika menemukannya. Mau berkomentar tentang alasan lain? Silahkan… :)

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kesan dan pesan nya. Jangan kapok dan sungkan untuk berkunjung kembali :)