18/10/2015

Sawang sinawang

Pernah mendengar sekelumit kata ‘sawang sinawang’? Yup, pepatah dari Jawa ini sering terdengar ketika kita melihat keadaan orang lain dan dibandingkan dengan kondisi kita sendiri. Biasanya, hal-hal yang terlihat dari orang lain itu adalah hal-hal yang lebih baik daripada apa yang kita miliki. Sayangnya, kegiatan ‘sawang sinawang’ ini rawan memunculkan penyakit hati apabila tidak diiringa sikap sadar dan syukur. Nah berikut ini ada sedikit kisah tentang seseorang yang memperlakukan dengan baik tetangga yang disinyalir sedang iri terhadapnya.

Seorang ibu penjual gudeg, pernah menjadi korban ‘sawang sinawang’. Singkat kata, masakan dari ibu ini laris manis diserbu pelanggan tiap ia membuka depot nya. Melalui cerita orang kepercayaannya, suatu ketika beliau menaikkan harga jual Gudeg karena harga bahan dasar mengalami kenaikan di pasar. Lalu apakah ada peristiwa menarik? Tentu saja ada. Salah satu tetangga nyinyir mengatakan harga jual masakan beliau terlalu mahal. Nah, si Ibu penjual gudeg tersebut malah memberikan gudeg untuk si tetangga secara cuma-cuma. Saya kurang tahu beliau menghadiahi gudeg untuk si tetangga selama berapa hari. Yang jelas, tanpa banyak kata untuk menangkis nyinyiran yang ada, beliau membalas perbuatannya dengan kebaikan. Bahkan si ibu penjual gudeg juga menurunkan kembali harga jual gudeg seperti sediakala. Mungkin beliau khawatir akan daya beli orang-orang di sekitar nya.

Nah kalau kalian di posisi penjual gudeg tersebut, yakin masih mau tergerak untuk berbagi? Bukankah membalas perkataan nyinyir lebih mudah daripada berbuat baik kepada mereka yang berbuat tidak menyenangkan? Yah, rasanya kita perlu berusaha terus untuk berbuat baik dengan sesama bagaimana pun kondisinya. Susah? Jelas. Jangankan untuk berbuat baik, diam tidak membalas omelan saja sebagian orang mungkin akan kesusahan. Namun rasanya, iming-iming balasan kebaikan sebesar biji sawi itu boleh kan kalau selalu kita ingat?


Pernah membaca kisah Nabi Muhammad menyuapi seorang pengemis Yahudi yang buta? Bila belum, simak kisahnya melalui google dan teman-teman boleh takjub, berdecak kagum, atau bahkan tersenyum getir karena belum tentu mampu untuk melakukannya. 

1 comment:

  1. ahh, rasanya berat jadi si ibu gudeg. kalo aku kayake sakit hati #masihlemahiman

    ReplyDelete

Terima kasih atas kesan dan pesan nya. Jangan kapok dan sungkan untuk berkunjung kembali :)