09/04/2014

Golongan Putih


Saat ini, saya masih bersandar pada dinding sebuah rumah di tepian jalan raya, seolah-olah hanya memiliki setengah tenaga untuk berpindah tempat atau bahkan sekedar untuk bergerak. Beragam kepentingan berseliweran di depan mata seolah menyadarkan saya bahwa jalanan telah dipadati oleh orang sedari beberapa menit yang lalu, atau jangan-jangan jalanan ini telah ramai sedari awal sedangkan saya yang sangat tidak peduli ini baru menyadarinya?? Well, apakah mengabaikan sesuatu itu bisa sedemikian mudahnya kah?

Di ujung jalan, sebuah posko pemilu telah gagah berdiri dengan seperangkat pamong desa  menyambut warga untuk sekedar memberikan waktunya untuk memilih calon wakil rakyat. Tapi sepertinya, posko itu sangat jauh berbeda dengan sebuah acara kondangan yang terletak di ujung jalan yang lain. Meskipun keduanya memutar lagu terupdate, tak ketinggalan para penyambut tamu di kedua tempat, perbedaan keramaian keduanya sangat jelas mencolok bagi setiap pengendara yang melalui kedua ujung tersebut. tentu saja berbeda, satu tempat mereka bisa melihat “tuan rumah” secara langsung, namun tidak demikian dengan tempat yang lain. Tempat dimana banyak kepentingan perlu dipertimbangkan, kepercayaan dipertaruhkan, persiapan kekecewaan di masa depan, dan mungkin saja segala prinsip yang berkaitan dengan tafsiran hidup seseorang terhadap pemilihan umum.


Tiba-tiba, entah dari arah mana tiupan angin membawa sejuta suara yang cukup menggangu kegiatan pengamatan ini.
“malas”
“ga ada yang bisa dipercaya”
“haram”
“ga sesuai dengan tafsiranku”
“omong kosong”
“kantorku ga libur”
“nyoblos ga nyoblos podo wae”
“presidene sopo yo ga ngefek
Serta sejuta perkataan yang lamat-lamat saya gagal mengkapnya.

Ah, mungkin inilah yang orang-orang bilang mereka termasuk bagian dalam golongan putih. Golongan yang menurut panitia pemilu adalah orang-orang yang menyia-nyiakan suaranya karena tidak berpartisipasi atas perubahan. Ya, mungkin benar demikian lah yang diajarkan dalam buku kewarganegaraan atas hukum dalam Negara ini; berpartisipasi dalam pemilu yang berasas LUBERJURDIL. Namun sayangnya, dengan sekuat tenaga dan pikiran yang ada, setitik cahaya seolah menerangi ‘kegelapan’ yang dulu dengan mudah diri ini mengomentari berbagai pemberontakan yang tercetak dalam buku sejarah. Seolah-olah diri ini berkata dengan mudah,”mengapa mereka tidak tunduk dan patuh saja dengan sistem yang berlaku? Bukan kah sebuah pemberontakan adalah suatu yang sia-sia? Berapa banyak tenaga, biaya, pikiran, dan bahkan darah tercecer?”. Kini, saya haya bisa terdiam, seolah-olah bertanya pada masa lalu, “apa hak saya menyatakan mereka pemberontak salah? Padahal tak sedikit pun saya pernah berada di sisi mereka sedetik pun. Bahkan saat saya membaca kisahnya mungkin saja saya masih duduk di bangku SMP yang notabene di daerah lain anak seusia saya sudah piawai merakit senapan angin atau sekedar lihai memainkan senjata tajam?.”

Dengan enggan saya mengeluarkan ponsel dan mengecek kuota internet yang tersisa. Setelah meyakinkan pulsa memadai, saya mulai berjalan-jalan ke dunia maya dan terantuk pada sebuat situs KPU Negara ini. Beragam penyuluhan nampaknya telah dilakukan dalam rangka menekan angka golput pada pemilu kali ini. Entahlah, apakah cara seperti itu benar-benar bisa mengembalikan ‘keyakinan’ sekelompok orang untuk menjadi seorang pemilih aktif. Saya benar-benar penasaran bagaimana cara mereka meyakinkan anggota golput yang menyatakan bahwa pemilu adalah ‘haram’. Yang jelas, para anggota golput sungguh terdiri dari beragam latar belakang. Entah itu sekedar tidak peduli akan pemilu, tidak percaya, dan bahkan tidak setuju dengan sistem.

Alhasil, kehidupan bernegara tidaklah sesimpel pelajaran kewarganegaraan jika ingin menjaga kepercayaan sekumpulan orang untuk mencapai satu tujuan. Begitu juga dalam memilih seseorang sebagai pemimpin, sekeren atau secerdas apapun dia, dia tidak berdiri sendirian bersama sekumpulan orang yang menjadi bawahannya dalam pemerintahan nanti. Mungkin yang terlihat adalah sesiapa yang menjadi pemimpin atau bawahan, tapi yang tak terlihat adalah sesiapa yang bersekutu di sekeliling mereka.

Ah, nampaknya waktu terus berjalan dan tinggal beberapa jam lagi TPS akan tutup. Di satu tepi jalan, mereka yang enggan dengan sistem sekarang tetap bergerak mewujudkan apa yang diinginkannya. Di tepi jalan yang lain, mereka yang memproklamirkan sebagai tim sukses caleg tertentu bergerak lincah membagikan foto atau sekedar cindera mata pengingat – sesuatu yang mengingatkan saya di masa SMA ketika menggenggam setumpuk stiker pasangan capres tertentu. Bahkan orang-orang yang hanya menatap enggan bilik pemilu namun tetap bekerja dengan giat dalam bidangnya. Apapun itu, mereka semua tidak diam, mereka tetap bergerak. Sesuatu yang mendorong saya untuk bergerak dengan tenaga yang tersisa, meninggalkan sejenak pikiran geje tentang disintegrasi bangsa atau pun sekedar menjadi expatriate. Sambil berjalan menuju suatu ujung jalan, paling tidak... saya paham atas sesuatu. Menjadi golput saat ini merupakan pilihan bagi sebagian orang.

Terlepas tidak akan berguna berjuta suara golput mengalahkan suara yang tidak golput, saya masih belum menemukan keputusan yang akan diambil KPU untuk mereka. Dengan kata lain, meskipun hanya segelintir orang yang memenangkan calon tertentu pada pemilu, warga golput harus tunduk pada hasil yang berlaku. Namun mengingat gaji para ‘wakil rakyat’ yang jutaan rupiah bahkan korupsi dimana-mana, masihkah kita perlu diam saja dan menjadi golput? Hemm, tentu saja itu terserah masing-masing kita. Ada berjuta nilai dan prinsip dari masing-masing orang yang tidak akan mampu dipahami oleh sebagian yang lain. Sepertinya itu menjadi tantangan besar para panitia pemilihan umum Negara ini. It seems interesting ~ J


I noticed everybody is working hard and try make a difference. so that makes me think it's better to take part in some real action, than to criticize there. this is more meaningful.
[copas fom someone's quote in a Taiwan drama]

2 comments:

  1. theme baru nih
    mata ku harus ta'aruf dulu ni :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Monggo silahkan..
      Hehe.. malah theme pean sering ganti. Jadinya pas lihat punya pean pale pengen cari theme2 lain. Tapi ya gitu cari yang gampang pake nya, yg ga terlalu banyak ngedit layout awal hehe..

      Delete

Terima kasih atas kesan dan pesan nya. Jangan kapok dan sungkan untuk berkunjung kembali :)