18/02/2013

[Belum] Terlihat Indah

Beberapa kisah tertangkap indera, dituliskan untuk mengingat bahwa segala rencana masih mempunyai peluang terlaksana atau gagal. Segalanya tak lepas dari Sang Penggenggam kehidupan.

Mereka tidak mati, hanya menunggu musim yang tepat untuk 'berwarna' kembali

Cerita A
Terdapat seorang kakak dari adik kelas di SMP saya, bercerita kepada salah satu kerabat saya bahwa ia pernah gagal menyelenggarakan pernikahan. Gedung sudah dipesan, catering sudah beres, dan undangan sudah tercetak, namun pernikahannya dengan calon mempelai pria nya saat itu gagal diwujudkan. Cerita bergulir ketika ia membuka akun jejaring social pribadi calon mempelai pria. Berbekal password yang diketahuinya, terbongkarlah fakta yang menyebabkan calon mempelai wanita mempertimbangkan kembali rencana pernikahannya. Menurut cerita, lelaki itu mempunyai hubungan asmara dengan wanita idaman lain dalam tampilan susunan kata ataupun foto yang ada. Cerita pun berlanjut dengan rasa kecewa dan bercampur malu di pihak calon mempelai wanita karena pernikahan tinggal menghitung hari, tapi apa daya keputusan untuk mengakhiri rencana pernikahan pun harus dikeluarkan. “Bersyukurlah karena Allah masih memberi kesempatan mengetahui sisi lainnya” begitu kata Sang ayah. Tentu saja adegan menguras air mata turut mewarnai akhir rencana pernikahan itu.


Cerita B
Suatu ketika, saya mengamati status teman SD saya. Seseorang yang saya yakin akan mudah mendapatkan belahan jiwa karena sangat percaya diri dan ekspresif dalam mengungkapkan perasaanya. Dia adalah tipikal orang yang berkelakuan sama antara dunia nyata dan maya. Jadi, ketika kesal ataupun ataupun bahagia, tidak segan-segan ia meluapkannya di akun sosmed, hal yang sama ketika bertemu dengannya di dunia nyata; begitu juga ketika statusnya bergalau-galau ria. Usut punya usut setelah sekali waktu ber-chat ria, dia mengaku pertunangannya dengan gadis yang ia cintai tak berlanjut ke pelaminan. Hingga saya pun merasa bersalah karena membuatnya teringat hal yang lalu dan membuatnya berkomentar, “no, its okay. Memang belum jodohnya. Sudah coba dipaksakan pun akhirnya pisah…”

Cerita C
Bermula dari hubungan costumer dan seller, seorang kerabat melegalkan hubungannya sebagai suami istri. Berjalan mengarungi rumah tangga dari asal kota yang berbeda, lingkungan keluarga yang berbeda, dan bahkan mungkin tingkat ‘spiritual’ yang berbeda dalam beragama. Hingga pada suatu ketika, tibalah mereka menghadapi permasalahan yang membuat keduanya berpisah di pengadilan agama. Singkat kata, keduanya telah menjadi duda dan janda setelah beberapa tahun bersama.

Cerita D
Seorang pemuda berusia belasan tahun yang begitu dicintai orang tua, saudara, dan kawan-kawan terdekatnya telah menemui ajalnya sehari setelah wisuda di SMA. Meskipun terhitung masih berkerabat agak jauh, saya senang sekali mendapatinya berada di sekolah yang sama dengan saya. Singkat cerita, dia orangnya ga banyak omong – terbukti kalau setiap hari raya saya berkunjung ke rumahnya, kami cuman main video games nya atau juga ngobrol sama keluarganya, jarang ke rumahnya sehari-hari soalnya jauh, dia aktif organisasi, membantu dan berteman dengan anak yang tidak mampu, dan setia kawan – meskipun beberapa teman laki-laki di kelas saya agak membencinya karena masalah perkelahian antar kelompok (waktu itu saya masih kelas satu tapi sudah menyadari kalau dalam sekolah juga ada geng antar cowok). Hingga tibalah suatu hari ketika saya berselonjor di depan mushollah menunggu ujian UAS pelajaran ke dua, semester dua, kelas dua, saya mendengar berita melalui pengeras suara tersiar tentang kepergiannya. Yang pasti, seseorang yang menurut saya baik hati, masa hidupnya telah berakhir, dan dia belum menikah.

Mungkin dengan berjalannya waktu akan ada banyak cerita lain yang tak tertayangkan dalam film, meskipun berjalan tak seromantis cerita drama, namun sangat berkesan pada tiap pelaku maupun orang terdekatnya. Apapun yang terjadi, akal manusia tidak akan mampu mengalahkan kehendak ‘misterius’ Sang pencipta manusia itu sendiri. Bergulir beberapa waktu kemudian, beragam cerita tak akan kita ketahui bagaimana endingnya, semuanya proses yang harus dilalui sebaik-baiknya sebelum ajal menjemput para pelakunya.

Menengok Cerita A, kini tokoh utama telah menikah (dengan orang yang berbeda) dan melahirkan seorang putra. Bahagia berkeluarga setelah ‘menyadari’ luka yang ada. Lain halnya dengan Cerita B, tokoh utama tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa dan mengaku memiliki target menikah yang datang dari dirinya sendiri tanpa dorongan dari orang tuanya. Hasilnya, ia kembali memperbaiki diri, dan berusaha kembali mencari orang yang serius menjadi pendamping sesuai keinginannya. Beralih ke Cerita C, tokoh utama pria telah menemukan pendamping sahnya yang lain. Bersama sang ayah, ia mencari wanita untuk mendampinginya dari segi agamanya, dan berjalan dengan baik hingga saat ini. Dari pengamatan yang ada, sang istri tokoh utama cerita ini bukanlah puteri yang cantik jelita, tetapi ia adalah seseorang dengan kesederhanannya mampu menghadirkan sosok tokoh utama menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Inilah mengapa memang benar buktinya ketika memilih pendamping, lebih baik menekankan agama daripada penampilan. Yang tampak pada mata akan terus berubah seiring bertambah usia, sedangkan akhlaq, akidah, dan sederet kriteria tentang bagaimana internalisasi beragama itu tidaklah instan proses pembentukannya pada diri seseorang. Terakhir, Cerita D, tentu saja saya tidak tahu apa yang akan ia peroleh suatu saat nanti. Mungkin Allah sudah menyiapkan bidadari untuk dia (?).  Nobody knows.

Melihat mereka yang telah mengalami kegagalan dalam hal menjalin hubungan serius, cukup menambah wawasan bagaimana bersiap menerima kemungkinan-kemungkinan yang ada di depan sana. Sambil berusaha memperbaiki diri, terus berdoa agar dimudahkan untuk menemukan sebenar-benarnya pendamping yang sesuai.  Karena pernikahan itu menggenapkan setengah agama, skill beragama pun benar-benar teruji di sana. Bersama pendamping benar-benar diuji bagaimana kita terus membangun akidah yang sama dan memperbaiki akhlak bersama. Mungkin, harapan semua orang akan mendapatkan pasangan yang sesuai dalam sekali jalan, tapi ketika Allah memberikan seseorang yang tidak sesuai sesuai rencana, mungkin dia lah yang malah mengasah "skill" kita menjadi lebih baik lagi. Akibatnya, kita lebih siap bertemu orang baru, bagaimanapun wujudnya. Paling tidak, ketika apa yang kita sangka belum terlihat indah sebagaimana mestinya, pasti ada alasan dibaliknya. Setiap orang pasti punya cerita, mungkin punya luka, dan perlu waktu juga untuk menyembuhkannya. 

2 comments:

  1. Tak ada yang terlalu cepat atau terlambat, semua datang tepat pada waktunya...
    Semoga segera....aamiin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya, tepat datang nya tepat perginya dan mungkin saja tepat bertemu dengan penggantinya :D
      #Aamiin

      Delete

Terima kasih atas kesan dan pesan nya. Jangan kapok dan sungkan untuk berkunjung kembali :)