06/12/2012

Atlit pertandingan


Sudah lama dalam benak saya, beberapa hal belum terjawab hingga saat ini. Salah satu pertanyaan adalah atlit yang diakui juga sebagai salah satu jenis pekerjaan. Maklum, meskipun kepedulian saya terhadap hal yang satu ini tidak besar, gencarnya pemberitaan mengenai kekalahan tim sepak bola Indonesia beserta tetek bengek sistem yang mengaturnya, dan didahului kasus korupsi di pemerintahan yang melibatkan “biaya perawatan” untuk para atlet tersebut, cukup “memangil” pertanyaan yang pernah muncul dalam benak saya di masa lampau.

Ngomong-ngomong pertanyaan yang saya punya adalah, bagaimana sebenarnya kedudukan olah raga sebagai pekerjaan? Apakah atlit olah raga yang bertanding itu dapat disejajarkan dengan tokoh pemain film?

Seorang pedagang sate menjual sate sebagai produk yang dijual untuk masyarakat. Ia mendapatkan penghasilan dari jumlah sate yang dibeli konsumen. Seorang perawat menggunakan keahliannya membantu dokter dalam menjaga kesehatan pasien, sehingga dia digaji untuk mamantau kesehatan pasien. Seorang artis mendapat gaji dari sponsor karena menampilkan salah satu cabang seni untuk menghibur sekelompok orang atau lebih. Singkatnya, seseorang digaji karena melakukan suatu keterampilan/keahlian untuk orang lain atau menjual produk kepada orang lain; barang atau jasa. Lalu, bagaimana dengan gaji seorang atlit?


Atlit adalah seseorang yang ahli dalam salah satu bidang keolahragaan tertentu. Waktu berlatih yang diperlukan oleh seorang atlit lebih banyak daripada seseorang yang hanya berlatih untuk menjaga kesehatannya. Atlit berjuang dalam sebuah pertandingan. Seorang atlit melawan seorang atlit yang lain. Salah seorang dari atlit tersebut pasti akan memenangkan pertandingan. Sebagai bentuk penghargaan atas kemenangannya, pemenang mendapat hadiah dari penyelenggara pertandingan. Hal demikian juga berlaku pada sebuah tim olah raga. Setiap pertandingan dengan level tertentu akan melibatkan banyak tim-tim olahraga. Semua tim berlomba untuk memenangkan pertandingan dan mendapatkan penghargaan. Setiap anggota tim adalah atlit-atlit yang dibayar untuk bertanding. Namun yang tidak dapat saya mengerti bagaimana peran para atlit olahraga tersebut di mata para penonton. Apakah mereka itu dianggap sebagai “artis-artis” lapangan? Apakah penonton menikmati pertandingan yang ada dan berharap tim tersebut tampil sesuai dengan yang diinginkan (meraih kemenangan) karena penonton telah membayar mereka (jika pemerintah turun andil dalam pembiayaan atlit dan pertandingan, bisa saja opini “bahwa uang kami turut membiayai atlit” muncul dalam benak masyarakat)? Atau, penonton tetap memposisikan sebagaimana penonton murni dalam melihat suatu pertandingan? Menurut saya, pertanyaan terakhir sangat minim sekali terjadi kemungkinannya karena teman-teman sering mengekspresikan kekesalan atas kekalahan tim Indonesia dalam akun sosmed mereka. Singkat kata, saya belum menemukan jawaban mengenai “bagaimana atlit dipandang oleh masyarakat.”

Mungkin saya salah dalam melihat sesuatu, namun ketika penonton berkeluh kesah dan mengunggul-unggulkan tim olahraganya, entah mengapa saya teringat orang yang bermain sabung ayam. Seekor ayam diadu melawan seekor ayam yang lain. Ayam yang bertahan karena berhasil mengalahkan lawannya, melukai atau tidak, akan diputuskan menjadi pemenang. Sang pemilik ayam pemenang  pun berbahagia karena mendapat pengakuan kemenangan oleh penonton dan lawan sebagai pemenang. Selain itu, dia juga mendapat hadiah sebagai rasa pengakuan sekitar terhadap dirinya. Namun yang perlu ditakutkan adalah hukuman pelaku sambung ayam di akhirat. Di sini saya yakin bahwa diantara pembaca pasti tau bagaimana hukum pelaku sambung ayam dalam Islam. Sekali lagi, semoga pandangan saya ini salah dan banyak pembaca yang mau menyampaikan pendapatnya tentang pertandingan olah raga seperti yang saya paparkan di atas sehingga saya tidak juga bertanya-tanya bagaimana ke-halal-an gaji atlit olahraga. Mungkin yang paling aman menafsirkan peran atlit dalam pertandingan adalah sebagai 'entertainer' masyarakat. Any idea? J

6 comments:

  1. Atlit ada yang menganggap sebagai pahlawan..sah-sah saja, ketika atlit tersebut berhasil membawa nama baik sebuah klub atau negara sekalipun, asalkan jangan anggap sebagai pecundang, (kecuali bagi yang betul2 pecundang) karena bagaimanapun usaha mereka untuk menjadi "entertainer" harus dihargai, salah satunya dengan gaji.
    Wallah' Alam bi Showab..:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah pecundang seperti apa yang dimaksud?

      Delete
  2. emm... betul jg tuh, emang idealnya atlet punya penghargaan dan pendapatan seperti pekerjaan lainnya

    ReplyDelete
  3. Menurut saya atlit lbih tepat disebut orang yang punya BAKAT dalam bidang olah raga, bukan sebagai profesi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih atas opini dan kunjungannya :)

      Delete

Terima kasih atas kesan dan pesan nya. Jangan kapok dan sungkan untuk berkunjung kembali :)